Sebagian besar masyarakat akan berpikir bahwa kehidupan pernikahan yang bebas konflik adalah hal terbaik dalam pernikahan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ternyata hal ini juga bisa menjadi salah satu pertanda bahwa pernikahan Anda sedang dalam bahaya??

 

Di awal sebuah pernikahan, salah satu pihak, umumnya pihak wanita, selalu jadi barometer dari sebuah hubungan pernikahan. Para wanita ini cenderung mengukur dan menjaga hubungan emosional dengan pasangannya, dan mungkin saja secara tidak sadar bertanya “Apakah kita sudah cukup meluangkan waktu bersama hari ini?”, “Apakah kita sudah berdialog dengan baik?” “Apakah kita sudah merasa ‘klik’? dan sebagainya. Apabila pihak wanita mendapatkan jawaban yang baik dari pertanyaannya, dia akan merasa senang sepanjang harinya. Akan tetapi apabila dia mendapatkan jawaban yang bernuansa negatif, dia akan melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam. Seperti misalnya “Kenapa kita tidak pernah pergi berdua lagi?” “Apakah kamu masih mencintaiku?” “Apakah menurutmu aku ini masih cantik?” dan semacamnya. Pihak pria, yang biasanya menunjukkan rasa cintanya dengan pergi bekerja dengan rajin dan menyediakan kebutuhan keluarganya, akan melihat pertanyaan-pertanyaan tadi seperti hal yang tidak penting. Para pria seringkali gagal untuk melihat bahwa hal ini sebenarnya adalah cara istrinya untuk menunjukkan kebutuhannya dan bahkan mungkin merasa istrinya sedang mengomeli atau mengkritik dirinya. Apabila hal ini terus berlanjut, hal ini seringkali membuat masing-masing pihak saling menjauh.

 

Hal tersebut membuat para istri merasa semakin tidak didengar dan salah paham akan kebutuhannya untuk merasa terhubung dengan suaminya. Dia mungkin menaikkan tingkat dan cara mengkritiknya agar mendapatkan reaksi dari sang suami. Keluhan sang istri mungkin terdengar seperti: “Kamu tidak pernah melakukan sesuatu di rumah?”, “Kamu sering keluar dengan teman-temanmu?”, “Hari ini kamu mau nonton sepakbola lagi?”, “Kenapa kamu tidak pernah membantu untuk mengurus anak?”. Tentu saja, pendekatan seperti ini, meskipun hanyalah sebuah usaha oleh sang istri untuk meningkatkan keseimbangan emosinya, tidaklah berdampak baik pada sang suami. Di bawah bombardir kritik yang diberikan oleh istri kepada sang suami, dia akan semakin jauh masuk kedalam “goa”-nya, dan baru kembali keluar saat dia merasa aman dari sang istri, atau pada saat dia bersama temannya. Apakah hal ini salah? Tidak ada orang yang merasa lebih dekat atau merasa lebih dicintai saat orang itu terus menerus diomeli dan dikritik.

 

Setelah beberapa bulan, atau mungkin beberapa tahun hal ini terjadi, para wanita akan menyerah dan berhenti peduli pada kondisi hubungan mereka. Dia akan berhenti mengkritik dan mungkin lebih menurut kepada suami mereka. Pada saat itulah mereka akan berpikir, “Apakah ini adalah akhir dari semuanya?”. Sang istri mungkin mulai merenungkan bagaimana jika dia hidup bersama orang lain, atau mungkin hidup sendiri. Tentu saja lingkungan, agama, dan keluarga tetap memberikan tekanan yang memastikan dia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang baik. Dia mungkin saja tetap terlihat seperti istri yang berbakti. Bahkan suaminya mungkin merasa bahwa dengan berhentinya omelan dan kritik-kritik dari istrinya ini adalah sebuah pertanda bahwa keadaan pernikahannya sudah membaik.

 

Akan tetapi, jauh didalam hatinya, sang istri sedang merencanakan sebuah jalan keluar. Memang perlu waktu yang lama untuk memastikan apakah ia mampu bertahan hidup tanpa suami. dan semua itu bergantung pada beberapa faktor seperti perkembangan anak, keadaan finansial dan perhitungan tingkat kemampuannya untuk bertahan hidup sendiri. Apapun itu, jika saatnya tiba, dan sang istri mengatakan “Aku ingin bercerai!”, Sang suami akan terkejut karena dia tidak pernah menyangka bahwa istrinya ternyata tidak bahagia.

 

Jadi, tidak adanya konflik bisa jadi sebuah hal yang baik, tapi juga menjadi sebuah pertanda bahaya bahwa salah satu pasangan sudah menyerah dan perlahan mulai mencari jalan keluar yang biasanya berakhir dengan perceraian. Bagaimanapun juga, hal ini bukan berarti akhir dari segalanya karena banyak hal yang bisa dilakukan untuk mulai terkoneksi kembali secara emosional dengan pasangan Anda.

 

Tanda Pertama – komunikasi yang Kurang Harmonis