Silahkan Download Press Kit Lengkap Di Sini

Informasi Buku

Judul    : Habis Nikah, Ngapain?

Penulis : Daniel Arseneault

Penerbit :

Tanggal Terbit :

Harga    : Rp

ISBN      :

Jumlah Halaman :

Kontak Press

email : admin@habisnikahngapain.com

whatsapp :

089-534-184-9342 (Fany)

 

 


Tentang Penulis

 

Biografi Pendek

Daniel Arseneault adalah seorang penasihat pernikahan yang gigih dan menulis buku untuk membantu pasangan Indonesia meningkatkan hubungan mereka.

 

Biografi Sedang

Daniel Arseneault adalah seorang penasihat pernikahan yang gigih dan menulis buku untuk membantu pasangan Indonesia meningkatkan hubungan mereka. Dia menulis dari hati dengan pengalaman pribadi dan penelitian yang dilakukan untuk membantu menyelamatkan pernikahannya yang sedang karam. Daniel berharap, tidak hanya membantu pernikahan yang sedang berjuang di masa-masa sulit, tapi juga membantu pasangan baru menikah yang sedang berbahagia untuk menghindari banyak jebakan yang akhirnya berujung perceraian.

 

Biografi Panjang

Daniel Arseneault yang berasal dari Kanada, telah menjadi guru/pelatih dan public speaker di Indonesia sejak 2001. Dia adalah penulis Habis Nikah Ngapain? Dan 5 Rahasia Pernikahan Bahagia. Selain itu, dia juga pernah menjadi penulis buku bersama

Dalam pencarian jawaban untuk menyelamatkan pernikahannya dengan wanita Indonesia yang sedang karam, Daniel bertemu dengan banyak orang Indonesia yang telah melalui pengalaman yang mirip. Dari situ dia menemukan bahwa tak ada yang mengetahui petunjuk yang harus dilakukan. Itu tak hanya di saat pernikahan sedang hancur tapi juga di saat-saat bahagia dalam pernikahan. Inilah yang menginspirasinya untuk membagikan apa yang dia pelajari tentang pernikahan, baik melalui pengalaman pribadi maupun penelitian-penelitian.

Daniel berharap, tidak hanya membantu pernikahan yang sedang berjuang di masa-masa sulit, tapi juga membantu pasangan baru menikah yang sedang berbahagia untuk menghindari banyak jebakan yang akhirnya berujung perceraian.

 

Silahkan download salinan biografi lengkapnya di sini

 

 

 


Pertanyaan Interview

 

  1. Anda tumbuh di keluarga seperti apa?

Saya tumbuh di keluarga yang sangat rendah hati. Kami bukan keluarga kaya, tapi juga tidak menginginkan banyak hal. Ayah saya bekerja di bidang militer sehingga kami sering berpergian. Beliau memang sering dinas dan tidak di rumah, tetapi setiap kali beliau pulang, kami selalu melakukan aktivitas sebagai keluarga. Kami pergi berkemah dan memancing bersama. kami juga hidup bersama banyak anak kecil di rumah, karena orang tua saya juga menyediakan penampungan untuk anak-anak terlantar. Jadi pada awal kehidupan saya, selalu ada banyak anak kecil di rumah. Kami keluarga bahagia. Saya beruntung bisa merayakan hari jadi pernikahan orang tua saya yang ke 50 tahun 2012 di kanada. Karena tahun berikutnya ayah saya meninggal.

 

  1. Mengapa Anda datang ke Indonesia?

Hmmm, Pekerjaan, Cinta dan Kehidupan. Pertama-tama saya datang ke sini untuk bekerja. Saya mendapat tawaran mengajar. Lebih dari setahun kemudian, saya jatuh cinta dengan istri saya dan tinggal di sini karena cinta. Kemudian saya menerka bahwa kehidupan membawa saya sampai di sini sampai sekarang.

 

  1. Apa pendapat Anda tentang pernikahan?

Hehe, baiklah. Saya adalah advokat yang gigih untuk pernikahan. Saya rasa pernikahan adalah hubungan terhebat seumur hidup bagi seseorang. Pada era ini, segala sesuatu bersifat sekali pakai. Terlalu mudah untuk pergi ketika Anda bosan atau segala sesuatunya tidak berjalan baik. Intinya, hubungan itu seperti anggur yang bagus atau antik, rasa dan nilainya meningkat seiring berjalannya waktu, dan pernikahan sering menjadi satu-satunya hal yang menghentikan orang-orang untuk menyerah pada hubungan tahap awal, ketika segala sesuatunya semakin sulit. Menurut saya, ketika orang-orang diberi insentif untuk berusaha membuat sesuatu berhasil, mereka membangun sebuah riwayat bersama. mereka menyelesaikan rintangan bersama. mereka menyadari betapa menyenangkan menjadi bagian dari tim yang sukses, yakni keluarga. Itu menciptakan ikatan yang kuat. Saya rasa, pernikahan adalah tanah liat yang menciptakan keluarga yang kuat dan keluarga adalah batu-bata yang tertata di atas pondasi tersebut untuk komunitas yang kuat dan akhirnya dunia yang lebih baik.

 

  1. Mengapa Anda memutuskan untuk menulis buku ini?

Baiklah. Secara inisiatif, ini tentang membantu sesama. Ketika saya belajar lebih banyak tentang pernikahan dan hubungan, juga ketika saya membagikan pengetahuan ini, saya menyadari sekali bahwa hal ini tidak tersedia bagi orang Indonesia. Banyak buku yang belum diterjemahkan, atau bahkan dijual di Negara ini. Dan terlebih, banyak konsep yang saya temukan tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Beberapa tahun, saya berbagi  apa yang saya pelajari dengan orang-orang yang telah mengalami situasi yang sama. Saya melihat mereka mengalami peningkatan dan bahkan menyelamatkan hubungan mereka. Saat itu saya tahu saya harus menulis buku ini. Selanjutnya, saat saya sedang melakukan proses menulis, saya menyadari betapa buku ini juga menjadi terapi bagi diri saya sendiri, untuk melalui proses perceraian yang menyakitkan, sehingga saya mampu menjalani kehidupan saya kembali.

 

  1. Untuk siapa buku ini? Siapa yang diuntungkan dari buku ini?

Buku ini untuk orang-orang yang telah, sedang dan akan menjalani sebuah hubungan dan yang ingin menjadikannya terbaik. Baik Anda sudah menikah selama 30 tahun, atau akan menikah, Anda akan mendapat manfaat dari konsep ini dan dari banyak kebiasaan yang saya sarankan di buku ini. kita mengikuti kursus yang tampaknya tidak terlalu penting seperti kursus mengemudi atau kursus computer. Sedangkan untuk hal yang benar-benar penting, seperti hubungan, kita berharap hanya melalui nya dan mempelajarinya lewat trial dan error? Itu konyol. Jadi saya rasa buku ini bisa jadi semacam buku panduan pernikahan. hehe

 

  1. Apakah Anda pernah merasa buntu saat menulis?

Ya, tapi bukan kekurangan bahan. Anda tahu ini adalah buku pertama saya, jadi saya tentu punya banyak bahan. Tapi kadang saya tidak tahu bagaimana untuk menyampaikannya, atau bagaimana menjadikannya sebuah narasi. Jadi saya menyadari, saat Anda menulis, maka Anda membuat sebuah rekaman untuk selamanya, Jadi saya butuh untuk meluruskan fakta-fakta saya,. Maksud saya, ketika saya tidak yakin terhadap seuatu, saya melakukan beberapa riset dan mewawancarai orang-orang. Ini semacam proses pembelajaran. Saya harus belajar bagaimana menjadi penulis dengan setiap fakta dan setiap halaman yang saya tulis.

 

  1. Bagaimana Anda menata perasaan Anda saat menulis buku ini?

Yaa memang tidak selalu mudah. Di satu sisi, buku ini seperti terapi diri, yang memaksa saya untuk menghadapi permasalahan dan melihat kesalahan saya sendiri, kegagalan saya dan juga kelemahan saya. Ini seperti menonton film kehidupan Anda sendiri secara slow motion dan melihat semua bagian yang sebenarnya bisa Anda ubah, tapi sayangnya Anda tidak bisa. Menyakitkan memang, tetapi juga mencerahkan dan akhirnya saya merasa, setidaknya, saya harap bahwa saya sudah menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

 

  1. Apa yang membuat buku ini berbeda dari buku lainnya yang sejenis?

Baiklah, apa yang bisa saya katakan tentang buku lain dengan subjek sama di Indonesia adalah kebanyakan buku tersebut membicarakan sesuatu yang sudah semua orang ketahui. Kita diberitahu berkali – kali bahwa untuk mendapatkan pernikahan bahagia, kita perlu mempunyai kemampuan komunikasi yang hebat, menghormati pasangan, setia, dan mencintai. Anda tahu itu semua, hal-hal yang biasa. Sedangkan faktanya adalah hampir kita semua tahu hal itu, Sementara dengan adanya 40 perceraian terjadi setiap jamnya di Indonesia, saya heran kenapa kita tidak mau melakukan hal positif tersebut. Nah, menurut saya, kita hanya tidak tahu cara untuk melakukannya. Buku Habis Nikah Ngapain? Ini memberikan pelajaran secara langsung tentang cara membangun hubungan melalui elemen-elemen tadi. Jadi ini semacam buku panduan pernikahan, hehe. Saya tidak hanya memberitahu Anda apa yang Anda butuhkan untuk pernikahan yang luar biasa, tapi saya juga memberitahu cara melakukannya.

 

  1. Bagaimana Anda bisa mengemukakan 6 konsep dalam buku ini?

Baiklah. Ketika saya hampir putus asa menyelamatkan pernikahan saya, saya mulai mencari jawaban tentang apa yang terjadi dalam hidup saya secara online. Saya cukup terkejut rupanya bukan hanya saya yang mengalami ini. Faktanya, banyak orang melalui hal yang sama dengan saya, ditawari banyak dukungan, nasiat dan informasi yang cukup membantu saya dengan baik. Dengan bantuan banyak buku dan sumber serta introspeksi diri, saya menyadari bahwa saya telah melakukan banyak hal yang membawa saya sampai di sini, dan betapa saya telah gagal untuk istri saya.sedikit demi sedikit saya belajar dari orang lain dan juga kesalahan saya sendiri, saya membangun filosofi saya sendiri tentang pernikahan. Akhirnya, saya memang tidak bisa menyelematkan pernikahan saya. Tapi banyak orang yang berbagi dengan saya merasa terbantu dengan saran saya. Jadi, ketika saya menyusun buku ini, saya memikirkan semua yang telah saya pelajari dari berbagai buku dan website, dan berusaha membuatnya mudah diakses oleh publik.

 

  1. Pada Bab 2, Anda membahas bagaimana keluarga dan orang tua kadang menjadi sumber permasalahan. Apa Anda tidak takut kalau orang-orang mungkin tersinggung dengan hal ini?

Baiklah, saya harus mengakui bahwa pemikiran tersebut juga sempat mengganggu saya, tapi akhirnya, bagi saya yang lebih penting adalah menyelamatkan pernikahan dan anak-anak, bukan membagi perasaan untuk orang tua yang terlalu protektif atau mungkin terlalu sensitive. Saya juga yakin bahwa semua orang tua akan lebih senang melihat anaknya memiliki pernikahan bahagia daripada bercerai. Itu fokus saya.

 

  1. Konsep pertama Anda adalah Kesampingkan Masalah Anda. Tidak terdengar seperti nasihat pernikahan pada umumnya. Bisakah Anda menjelaskannya?

Yaa.. pada dasarnya saya tidak menyuruh Anda untuk melarikan diri dari masalah atau sekadar mengabaikannya. Hehe. Maksud saya adalah pasangan sangat sering membahas masalah mereka saat mereka sedang tidak suka satu sama lain. Tentu saja hal ini akan mempersulit penyelesaian masalah saat Anda melihat pasangan Anda sebagai “musuh”. Yang saya sarankan adalah kembalikan hubungan Anda dulu ke kondisi yang lebih baik, sehingga permasalahan akan lebih mudah diselesaikan. Dan siapa tahu masalah tersebut malah menghilang.

 

  1. Pada bab 9, konsep ke 6, Anda menyatakan bahwa tidak melibatkan istri Anda dalam mengambil keputusan bisa merugikan pernikahan Anda. Bisakah Anda memberitahu orang-orang cara menghindari jebakan tersebut?

Nah, poinnya di sini adalah seringkali kita berusaha terlalu keras untuk jadi efisien. Dan dalam proses tersebut kita seringkali merendahkan pilihan dan masukan pasangan kita. Khususnya untuk tugas yang berhubungan dengan gender. Contohnya, pria biasanya yang berttugas memilih alat elektronik keluarga karena asumsinya mereka lebih baik dalam hal itu. Tapi jika Anda pikirkan, kebanyakan pria yang saya kenal tidak begitu tahu tentang elektronik. Jadi, apa akan buruk jadinya jika mendengar masukan dari istri Anda tentang Tv mana yang harus dibeli? Di samping itu, apakah ada perbedaan besar? Mungkin saja istri Anda sudah membaca tentang TV atau telah mengetahuinya dari teman dan punya pendapat yang bagus tentang itu. Bayangkan perasaannya jika suaminya setuju dengan sarannya. Ya. Mungkin Tv nya tidak memiliki banyak fitur seperti yang suami inginkan. Tapi saya bisa katakana peningkatan untuk hubungan Anda lebih berharga daripada itu.

 

  1. Apa yang ingin Anda katakan untuk mereka yang merasa terlalu sibuk untuk menerapkan kebiasaan ini?

Baiklah. Saya sudah mengalami 2 perceraian, yang dua-duanya mengejutkan saya. Di kedua situasi tersebut, saya rasa semuanya baik-baik saja dan kita menikah dengan bahagia, tapi ternyata salah satu dari kami tidak. Saya katakana pada Anda bahwa melalui perpisahan atau perceraian tidak lah menyenangkan. Kebiasaan ini leih mudah dan lebih menyenangkan daripada perpisahan atau perceraian. Di samping itu, Anda harus melakukan ini, jika bukan untuk Anda setidaknya untuk anak Anda.

 

  1. Dimana kami bisa mendapatkan salinan Habis Nikah Ngapain?

Baiklah. Untuk sekarang, bukunya tersedia di website kami

www.habisnikahngapain.com dan bisa dipesan langsung secara online.  Kami sekarang sedang mengusahakan proses distribusi dengan toko buku nasional dan juga toko buku online. Jadi buku ini akan segera tersedia di sana juga.

 

  1. Apa kesibukan Anda sekarang?

Saya telah mendengar banyak orang berkomentar tentang Waktu Kencan. Kebiasaan yang saya kenalkan melalui konsep 3, Luangkan Waktu Untuk Cinta. Sepertinya orang-orang kesulitan mengemukakan alasan dan ide untuk berkencan dengan pasangan mereka. Jadi saya rasa saya akan memberikan panduan mudah untuk membantu pasangan bersenang-senang dengan konsep ini. Saya juga tersedia sebagai pembicara dan mulai bekerja dengan seminar dan pelatihan tentang pernikahan.

Mengapa Pesan Ini Begitu Penting?

  • Indonesia memiliki angka perceraian yang tumbuh pesat se Asia Pasifik
  • Ada lebih dari 350.000 perceraian setiap tahunnya di Indonesia. Yang berarti 1000 perceraian setiap hari, atau 40 perceraian setiap jamnya.
  • Rata-rata keluarga memiliki 2,6 anak. Artinya setiap tahun hampir 1000.000 anak tumbuh di keluarga broken home.
  • Kebanyakan orang tidak mengusahakan pernikahannya sampai sudah terlambat.
  • Pasangan yang tidak bahagia dan bercerai tidak menjadi lebih bahagia setelah 5 tahun daripada yang tetap bertahan
  • 2 dari 3 pasangan tidak bahagia yang memilih menghindari perceraian dan bertahan, berakhir dengan bahagia setelah 5 tahun.

 

Fakta tentang Anak-Anak Broken Home

  • Setelah perceraian, anak-anak 50% mengalami masalah kesehatan daripada orang tuanya.
  • Anak-anak yang tinggal dengan kedua orang tua biologisnya , 20-35% lebih sehat fisiknya daripada anak-anak tanpa kehadiran kedua orang tua biologisnya.
  • Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai berkali-kali prestasinya lebih rendah dari teman sebayanya dan teman sebayanya tidak begitu menyukainya.
  • Remaja yang tinggal dengan salah satu orang tua saja atau broken home lebih membutuhkan bantuan psikis tiap tahunnya daripada remaja dengan keluarga yang utuh.
  • Orang-orang dari keluarga broken home dua kali lebih mudah melakukan bunuh diri dari pada mereka yang dari keluarga utuh.
  • Anak-anak dari keluarga broken home dua kali cenderung lebih mudah drop out dari SMA nya daripada teman sebayanya yang hidup di keluarga yang utuh.
  • Anak dewasa dari keluarga broken home cenderung mendapat pekerjaan dengan gaji sedikit dan kampus yang tidak begitu bagus daripada sebayanya yang hidup di keluarga yang utuh.
  • Anak-anak korban perceraian cenderung kesepian, tidak bahagia, cemas dan tidak aman.
  • Anak-anak korban perceraian lebih mudah terpengaruh alcohol dan narkoba.

Anak-anak korban perceraian 4 kali lebih mudah mendapat permasalahan hubungan dengan sebayanya daripada anak yang tumbuh di keluarga yang utuh.

 

 

 

Silahkan download salinan pertanyaan interview dan fakta penting di sini

 

 

Sampul Buku