Kita semua pernah mendengar cerita tentang tentara yang berperang bersama menghadapi konflik dan karenanya membentuk sebuah ikatan yang kuat satu sama lain. Kita mendengar tentang korban bencana yang sebelumnya tidak saling mengenal namun karena mengalami musibah yang sama membentuk ikatan berdasarkan perasaan senasib. Pernikahan juga seperti itu, harus dibangun dengan ikatan yang kuat, dan untuk membentuk ikatan yang kuat mereka harus berjuang bersama melewati masa-masa yang sulit.

 

Tidak ada jalan pintas. Kita lebih banyak belajar dan bertumbuh melalui kesalahan dan kegagalan daripada kesuksesan. Mungkin itu salah satu makna dari janji pernikahan “di saat baik maupun buruk”. Sebuah taman tidak bisa tumbuh hanya dengan sinar matahari. Taman membutuhkan hujan juga untuk bisa tumbuh dengan indah. Hal inilah yang membuat semua yang ada di hidup kita lebih bernilai.

 

Seorang penyair Inggris dari abad 17, John Donne pernah berkata “No man is an island”. Hal ini sangat tepat, karena di dunia ini, kita semua saling terkoneksi. Tidak ada orang yang hidup sendiri. Koneksi inilah yang memberi kita alasan untuk hidup.

 

Jika kita sendiri, kita seperti sebuah huruf dari rangkaian alfabet. Jika Anda mengambil salah satu huruf seperti a,b,c maka huruf itu tidak berarti apa-apa sampai huruf itu dipasangkan dengan huruf lainnya. Huruf tersebut harus dirangkai sebagai kata, tanpa huruf lainnya maka huruf tersebut hanya menjadi simbol namun dengan keunikan tersendiri.

 

Semua manusia itu sama. Kita adalah makhluk sosial yang butuh berhubungan dengan orang lain untuk menemukan tempat kita di dunia ini. Seorang manusia yang hanya sendiri di dunia ini tidak memiliki tujuan. Untuk apa kita bernyanyi, melukis atau membuat sesuatu yang indah apabila tidak ada orang lain yang melihat atau menghargainya. Untuk apa bertahan hidup ketika kita tahu tidak ada orang lain yang akan meneruskan spesies manusia. Manusia akan terus berkelana untuk mencari tujuan hidup. Manusia menemukan tujuan hidupnya melalui manusia lain, pasangan menemukan tujuan hidupnya melalui keluarga dan masyarakat.

 

Pasangan seperti halnya tanah liat dan pasir yang bersatu menjadi batu bata yang menjadi fondasi untuk keluarga dan masyarakat. Seperti batu bata yang membutuhkan proses panjang di bawah panasnya matahari untuk menjadi batu bata yang kuat, pernikahan butuh waktu yang lama melewati kesusahan dan masalah untuk menjadi lebih kuat. Seperti batu bata yang perlu dilindungi dari hujan sampai menjadi kokoh, pernikahan butuh dilindungi dari pengaruh orang luar untuk menjadi lebih kuat. Setelah jangka waktu tertentu baru batu bata tersebut bisa dipakai untuk membangun sesuatu, menjadi bagian dari bangunan yang jauh lebih kokoh dari satu batu bata. Jika batu bata tersebut tidak cukup lama dijemur di bawah terik matahari atau terkena hujan saat belum kering maka batu bata tersebut akan hancur dan tidak berguna.

 

Jadi, kesimpulannya, alasan saya sangat percaya pada pernikahan adalah pernikahan mengijinkan  kita untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih  hebat dari diri kita sendiri, yang bisa membangun fondasi yang kuat  untuk masyarakat. Melihat keadaan dunia saat ini membuat kita ragu akan masa depan manusia di planet ini, dan kita sering merasa tak berdaya ketika dihadapkan pada tugas untuk membangun dunia yang lebih baik untuk anak kita, namun saya tetap berpendapat kita semua dapat membuat perubahan besar hanya dengan mengikuti kata bijak dari Bunda Teresa “Jika Anda ingin merubah dunia, pulang ke rumah dan cintailah keluarga Anda”.

 

← Bagian 2          |          Bagian 1 →

Ditulis oleh Daniel Arseneault (@hbsnikahngapain)
Penulis Habis Nikah, Ngapain?
http://habisnikahngapain.com/
Diterjemahkan oleh Dian Sari

Sumber gambar : www.cntraveler.com

Newsletter signup

Just simple MailerLite form!

Please wait...

Selamat Anda telah bergabung! Silahkan cek email Anda untuk mendapatkan link download eBook GRATIS dari kami.