Seiring bertambah dewasa, maka pemikiran kita pun berubah. Saya teringat ketika saya muda, saya jarang memikirkan mengenai pernikahan dan bahkan saya ragu bahwa saya akan menikah. Saya tumbuh di lingkungan asing, dimana pernikahan memiliki makna yang berbeda dengan di Indonesia sendiri. Terlepas dari itu semua, pemikiran untuk berkomitmen dengan pasangan Anda baik melalui pernikahan ataupun tidak, adalah  sesuatu yang penting dan mendasar dalam tahap hidup seseorang terutama untuk membentuk keluarga. Setelah 30 tahun dan 2 pernikahan, orang akan berpikir bahwa pemikiran saya mengenai pernikahan akan berubah menjadi lebih buruk, namun, saya berdiri disini, untuk meluruskan kesalapahaman ini. Mengapa?

 

Pada awalnya saya harus katakan, pernikahan telah membentuk sesuatu yang terbaik dari diri saya. Sejak hari pertama saya bertemu dengan istri saya sampai saat ini, masih sama, ia membuat saya ingin menjadi seseorang yang lebih baik. Bahkan saat ini, saat kami berdua telah melalui perceraian,  saya berhutang kepadanya atas hal – hal baik yang ada pada diri saya. Selama tahun – tahun kebersamaan kami, ia adalah contoh nyata dari orang yang penuh kebaikan, kesabaran, dan pemaaf. Saya selalu ingin menunjukkan kepada dunia betapa baik dirinya, karena ia telah merubah pandangan saya menjadi lebih baik terhadap pernikahan.

 

Ketika Anda berstatus lajang,  Anda hanya perlu memikirkan diri Anda sendiri, segala yang ada di hidup Anda adalah mengenai Anda sendiri, mengenai kebutuhan Anda, diri Anda, dan Anda tidak perlu mendiskusikan apapun dengan orang lain karena semuanya adalah mengenai diri Anda sendiri. Artinya, Anda memiliki kecenderungan bertindak sesuai dengan dorongan dari luar, yang artinya Anda kerap kali membuat kesalahan akibat hal ini. Anda kerap membuat keputusan bukan karena ingin menjadi orang yang lebih baik namun menjadi orang yang Anda inginkan, terlepas itu baik ataupun buruk.

 

Hal tersebut tidak terlalu mengejutkan, karena sejak kita lahir, kita terbentuk menjadi makhluk yang egois, kita melihat diri kita sendiri sebagai pusat dari alam semesta, segala sesuatu yang ada disekitar kita dibentuk untuk kita. Saat kita terlahir, ketika kita lapar, kita menangis dan sekejap makanan disediakan untuk kita,  ketika kita penuh dengan kotoran, kita menangis kemudian sekejap kita menjadi bersih, ketika kita lelah dan mengantuk, kita menangis dan kita akan ditimang dengan lembut hingga tertidur. Seakan – akan segala hal disekitar kita terbentuk hanya untuk memenuhi kebutuhan kita. Kemudian kita bertumbuh, namun tetap saja saat kita balita kebutuhan kita selalu dipenuhi oleh orang- orang disekitar kita, oleh lingkungan kita, tanpa kita harus berusaha keras. Kita hanya perlu diam dan menikmati apa yang diberikan orang lain dan orang – orang di sekitar kita akan memastikan bahwa kita sehat, merasa bahagia, dan terurus dengan baik. Kita tidak kekurangan apapun, kita mendapatkan apa yang kita butuhkan dan, kemudian kita menjadi remaja, dan kita tahu apa yang terjadi saat masa – masa remaja.

 

Remaja mungkin adalah masa paling egois dalam hidup manusia. Ketika kita berusaha mencari tahu siapa diri kita dan kita memfokuskan segala tenaga dan pikiran kita dan bagaimana kita dapat berbaur dengan lingkungan, dengan rekan – rekan kita, dan keluarga. Segalanya mengenai diri kita. Sejak awal kita mengetahui, begitulah dunia di sekitar kita. Kita melihat segalanya ada hanya untuk kenyamanan dan kebutuhan diri kita. Segalanya ada di sekitar kita. Sejak kita lahir hingga kita tumbuh dewasa, kita memiliki keluarga yang menyediakan segalanya untuk kita. Kita memiliki segalanya di sekitar kita dan memenuhi kebutuhan kita, hingga kita tumbuh menjadi orang yang begitu egois.

 

Kemudian kita bertemu dengan orang yang spesial, dan saat itu, orang tersebut menjadi pusat dari kehidupan dan dunia kita. Kita tidak lagi duduk diam dan meminta kebutuhan kita agar dipenuhi, tiba – tiba, hal yang ingin kita lakukan adalah, memberi dan selalu ada untuk orang yang spesial bagi kita. Pertama kalinya dalam hidup kita, kita mulai mendahulukan orang lain. Kita mulai memprioritaskan kebutuhan orang lain daripada diri kita sendiri, dan kawan, pada saat itulah kita mulai menyadari bahwa ada banyak hal selain kebutuhan kita sendiri. Terdapat kebahagiaan yang lebih besar saat kita memberi kepada orang lain daripada saat kita menerima. Kesadaran saat kita bukanlah pusat dari dunia ini menjadi titik awal kedewasaan. Sama seperti masa yang kaya akan budaya Renaissance Eropa yang sebagian dipengaruhi oleh pendapat Copernicus bahwa bumi bukanlah pusat dari alam semesta, kemudian kita menyadari hal tersebut, bahwa kita bukanlah pusat dari dunia ini, dan kita dapat bertumbuh sebagai individu.

Bersambung…

Bagian 2 → 

Ditulis oleh Daniel Arseneault (@hbsnikahngapain)
Penulis Habis Nikah, Ngapain?
http://habisnikahngapain.com/
Diterjemahkan oleh Dian Sari

Sumber gambar : www.flickr.com

Newsletter signup

Just simple MailerLite form!

Please wait...

Selamat Anda telah bergabung! Silahkan cek email Anda untuk mendapatkan link download eBook GRATIS dari kami.