Biarkan cinta Anda lebih besar daripada rasa benci atau marah Anda…

Ada sebuah cerita atau mungkin mitos yang beredar di internet tentang nasihat pernikahan yang ditulis oleh seorang wanita Amerika yang bernama Jane Wells pada tahun 1886. Setelah membaca tulisan Jane yang kelihatan benar adanya dan bijaksana membuat saya tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentang Jane Wells dan alasan di balik penulisannya yang sangat bijaksana ini. Sayangnya di balik jangkauan internet yang luas saat ini, saya tidak bisa menemukan informasi apa-apa selain dari sebuah nasihat yang ditulis oleh Jane Wells pada tahun 1886. Apakah ini benar adanya? Apakah seorang wanita yang bernama Jane Wells benar-benar ada dan menulis nasihat ini pada tahun 1886?

Saya tidak mendapatkan jawabannya untuk Anda tetapi saya bisa menyampaikan bahwa nasihat yang ditulisnya ini masih berlaku hingga saat ini sama seperti pada saat ia menulisnya pada tahun 1886 dan empat nasihat sederhana tersebut benar-banar bisa membawa kita ke arah yang tepat untuk menciptakan kehidupan pernikahan yang bahagia.

 

“ Biarkan cinta Anda lebih besar daripada rasa benci atau marah Anda. Pelajari kebijaksanaan untuk berkompromi, lebih baik sedikit membungkuk daripada sampai putus.
Percaya pada yang terbaik daripada yang terburuk. Orang mempunyai cara hidup yang naik turun menurut pendapat Anda terhadap mereka.

Ingatlah bahwa persahabatan sejati adalah dasar untuk setiap hubungan yang langgeng. Orang yang Anda pilih untuk menikah layak mendapatkan perlakuan yang santun dan kebaikan yang Anda berikan kepada teman Anda.

Tolong serahkan ini kepada anak cucu Anda. Semakin banyak hal berubah, semakin mereka sama. “

– Jane Wells 1886

 

Mari kita lihat pesan yang sangat kuat di balik kalimat-kalimat ini.

 

“Biarkan cinta Anda lebih besar daripada rasa benci atau marah Anda…”

Kalimat pertama ini sangat jelas dan berlaku untuk semua hubungan yang mungkin kita miliki dalam hidup kita.
Dari usia yang sangat muda kita harus berhadapan dengan berbagai macam emosi yang dibawa melalui pengalaman hidup kita. Seringkali kita merasa lebih mudah membiarkan perasaan kita mendikte tindakan dan kata-kata kita, tetapi hal ini seringkali membuat kita merasakan kesegaran sesaat saja dan biasanya berakhir dengan rasa kosong di dalam dan rasa malu akan tindakan kita.

Cinta adalah perasaan paling kuat yang kita miliki dan saya sangat percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya jika kita tetap sadar dan jika setiap hari kita memilih cinta daripada jenis emosi lain yang kita rasakan. Jangan biarkan diri Anda sendiri menjadi negatif, penuh kebencian atau bergosip. Setiap saat, setiap hari pilih cinta. Dengan memilih untuk memberikan cinta pada pasangan Anda, tidak peduli apapun situasinya maka Anda akan sangat mungkin mendapatkan balasan cinta dari pasangan Anda dan membuat ikatan pernikahan Anda menjadi lebih kuat.

 

“Pelajari kebijaksanaan untuk berkompromi, lebih baik sedikit membungkuk (merendah) daripada sampai putus…”

Seperti dalam setiap hubungan, kemampuan untuk menjadi fleksibel dan kompromi adalah hal yang sangat penting agar hubungan tetap harmonis. Seperti halnya pohon ek yang ditemukan dalam dongeng Aesop, Pohon Ek dan Serumpun Buluh kemampuan untuk membungkuk saat dalam kesulitan seringkali lebih berguna daripada sekedar menunjukkan kekuatan dan keengganan. Untuk memuaskan kebutuhan Anda berdua dengan pasangan dengan cara yang sehat adalah lebih baik untuk sedikit membungkuk daripada sampai putus. Bukanlah ide yang baik untuk “mematahkan” pasangan Anda demi memenuhi kebutuhan Anda. Anda berdua perlu untuk sedikit merendah dan sedikit berkorban untuk pasangan Anda untuk memelihara hubungan yang sehat.

Ketika saya dalam situasi di mana saya ingin memperjuangkan pendapat saya maka saya selalu bertanya kepada diri saya sendiri : “Kamu ingin menjadi orang yang benar atau menjadi orang yang bahagia?” 

Mau tidak mau, saat berhubungan dengan orang yang kita cintai, teman dan keluarga jawabannya selalu adalah saya lebih memilih untuk senang atau bahagia daripada menjadi benar. Saya lebih memilih untuk sedikit membungkuk atau merendah seperti buluh dan bisa bertahan saat badai daripada menjadi keras kepala, tidak flesibel atau bahkan kehilangan orang yang kita cintai.

 

“Percaya yang terbaik daripada yang terburuk. Orang mempunyai cara hidup yang naik turun menurut pendapat Anda terhadap mereka…”

Diyakini bahwa Johann Wolfgang von Goethe yang berkata : “Bagaimana Anda melihat orang bisa terlihat dari cara Anda memperlakukannya dan bagaimana cara Anda memperlakukannya adalah akan menjadi apa mereka.” Karena setiap pendapat kita, pikiran yang sederhana berdasarkan pandangan kita terhadap berbagai hal seringkali menjadi bias, prasangka bahkan suasana hati kita, bukankah lebih baik jika berusaha untuk selalu melihat, berpikir dan percaya atau berharap yang terbaik dari setiap orang?

Saya menemukan bahwa hal ini benar adanya terutama sekarang masanya komunikasi melalui pesan teks dan WhatsApp, ketika kita kehilangan isyarat visual pada saat mengobrol satu sama lain.
Saya menemukan bahwa intrepretasi dari nada suara seseorang dan artinya seringkali dipengaruhi oleh suasana hati saya pada saat membaca pesan teks. Setelah membuat saya merasa dalam situasi yang buruk karena hal ini maka sekarang saya berusaha untuk selalu berasumsi yang terbaik. Pada saat ada ketidakpastian tentang suatu pesan, kata-kata atau bahkan tindakan untuk hal tersebut, saya selalu berusaha untuk beranggapan bahwa orang tersebut mempunyai niat baik dalam pikirannya.

 

“Ingatlah bahwa persahabatan sejati adalah dasar dari hubungan yang langgeng. Orang yang Anda pilih untuk menikah layak mendapatkan perlakuan yang santun dan kebaikan yang Anda berikan kepada teman Anda…”

Ekspresi idiom “familiarity breeds contempt” (keakraban menimbulkan rasa kurang hormat) terdengar sangat akrab, dan untuk alasan yang baik.Kebanyakan dari kita merasa bersalah karena telah memperlakukan orang yang paling kita cintai dengan cara yang paling buruk. Pada kenyataannya, bukankan itu bagian dari tradisi Indonesia yang membuat kita menyiapkan kamar yang terbaik dengan mebel yang terbaik untuk tamu kita, sementara kita menyembunyikan bagian dari rumah kita yang tidak rapi dan rusak? Seringkali dalam pernikahan, pasangan suami istri berhenti berusaha untuk bersikap baik satu sama lain. Kita terlibat dalam pertengkaran atau argument dengan pasangan kita dan kita saling menghina, jahat dan kasar.

Apakah itu berasal dari kekuatan kebiasaan, ketidakpedulian, atau hanya memanfaatkan kebaikan pasangan kita begitu saja, kita seringkali lupa untuk sopan dan bersikap baik terhadap orang yang paling penting dalam hidup kita. Ya, pasangan Anda adalah tempat yang paling aman untuk melampiaskan dan mereka sudah melihat sisi terburuk Anda, tetapi persahabatan sejati berarti Anda rentan dan saling mencintai satu sama lain bahkan jika Anda berbuat salah. Tidak ada satu alasan pun untuk berbicara dengan pasangan Anda dengan buruk atau memperlakukan mereka dengan buruk di mana Anda tidak mungkin melakukannya kepada teman atau tetangga Anda.

Pasangan Anda layak untuk mendapat perlakuan santun dan kebaikan, bahkan jika Anda berbeda pendapat dan beradu argumentasi. Saya tahu hal ini sulit dilakukan tetapi merupakan komponen penting dalam pernikahan yang sehat.

 

“Tolong serahkan ini kepada anak cucu Anda. Semakin banyak hal berubah, semakin mereka sama.”

Nasihat terakhir ini mengingatkan kitalah yang paling dekat, lebih terpercaya, saat anak kita menikah dan tidak peduli bagaimana semua hal di dunia ini bisa berubah, tidak peduli bagaimana teknologi merubah cara hidup kita, nasihat yang sudah using ini akan tetap ada dan masih berlaku sampai masa-masa yang akan dating untuk memastikan kebahagiaan mereka.

Lagipula, semakin banyak hal yang berubah semakin mereka tetap sama.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya nasihat pernikahan untuk anak Anda? Silahkan bagikan nasihat Anda bersama kami di kolom komentar!

 

Ditulis oleh Daniel Arseneault
habisnikahngapain.com
Diterjemahkan oleh Vera Herlambang
Sumber Gambar : Stormwarning Photography