Saat itu saya sedang mengobrol dengan salah seorang teman saya Gus tentang pernikahannya, dimana dia tidak merasa terlalu bahagia. Dia terus bercerita tentang bagaimana dia merasa tidak dihargai oleh Lusi, istrinya. Pada saat itu, situasi anaknya sedang cukup sakit. Saya cukup mengerti bagaimana sulitnya bagi orang tua muda untuk beradaptasi dengan kedatangan seorang bayi, dan saya sepertinya paham apa yang sedang teman saya inginkan, paling tidak saya paham beberapa di antaranya. Saya melihat adanya sebuah masalah yang biasanya tidak terpikirkan, dan menurut saya hal ini penting untuk disadari.

 

Dalam suatu malam, anak bayinya sedang sangat sakit, dan susah sekali untuk makan. Ia terus menangis tanpa henti dan Lusi mencoba untuk mengurus bayinya, mencoba untuk meredakan rasa sakitnya. Di saat Lusi sedang menenangkan anaknya, Gus merasa khawatir dirinya merasa tidak membantu apa-apa dalam situasi tersebut, kemudian dia mencoba untuk membersihkan dapur rumahnya, yang menurutnya cukup berantakan. Dia membersihkan bekas-bekas muntahan yang biasanya terdapat di sekitar furnitur, dinding dan lantai. Ia merasa senang ketika kondisi bayinya lebih baik, akan tetapi Gus masih merasa sedikit kecewa kepada Lusi yang tidak melihat apa yang sudah dikerjakan olehnya.

 

Gus mengatakan kepada saya bahwa dia sedikit sakit hati karena Lusi tidak berterima kasih ketika Gus telah membersihkan dapur rumah mereka. Bahkan saat itu, ia membersihkan sampai Lusi dan bayi mereka tertidur lebih dulu, mungkin karena kelelahan. Ia merasa terluka dan kecewa sampai kemudian dia juga menceritakan kejadian lain dimana dia “membantu” Lusi dan tidak mendapat terima kasih darinya. Dia menunjukkan meskipun dia sudah berkali-kali mencuci piring, menyetrika, mencuci pakaian, memasak makanan, atau bahkan bangun tengah malam untuk mengurus sang bayi yang sedang rewel, Lusi masih tidak memberikannya sebuah ungkapan terima kasih. Gus merasa setidaknya Lusi bisa memberikannya sebuah ucapan terima kasih, dan dia merasa bahwa semua hal tersebut dianggap biasa saja oleh istrinya.

 

Setelah mendengarkan ceritanya, awalnya saya bertanya kepada Gus, seberapa sering Lusi melakukan perkerjaan rumah, dan ia dengan cepat menjawab bahwa Lusi adalah istri yang sangat baik dan biasanya dia yang selalu mengerjakan semua pekerjaan rumahnya, akan tetapi dia masih berpikir bahwa setidaknya Lusi bisa mengucapkan terima kasih saat dia ‘membantu’ istrinya dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Kemudian saya kembali bertanya kepada Gus, kapan terakhir kali dia berterima kasih kepada Lusi karena dia mencuci pakaiannya. Gus terdiam, setelah cukup lama, kemudian dia menjelaskan bahwa itu sudah menjadi pekerjaan Lusi untuk mencuci pakaiannya, hal itu adalah normal. Kemudian saya kembali bertanya kepada Gus, siapa yang memutuskan bahwa pekerjaan mencuci adalah pekerjaan Lusi, bahkan Lusi juga punya pekerjaan full-time nya sendiri di bank. Setelah berpikir sejenak, dengan malu-malu Gus menjawab bahwa dia tidak tahu, dia hanya tahu bahwa istrinyalah yang biasanya mencuci pakaian.

 

Anda dapat melihat bahwa Gus menganggap semua pekerjaan rumah yang sudah dia lakukan itu ‘membantu istrinya’, akan tetapi sebenarnya, mereka berdua memiliki pekerjaan di kantor mereka sendiri-sendiri. Jadi sebenarnya Gus baru dapat dikatakan ‘membantu’ Lusi ketika ia benar-benar membantu mengerjakan pekerjaannya di kantor. Sekarang coba Anda pikirkan, kenapa Gus tidak mencuci baju? Padahal itu bajunya sendiri yang kotor dan butuh dicuci serta disetrika, bukan begitu? Kenapa dia tidak mencuci piring? Dia juga makan makanan yang dia masak sehingga piring dan perabot lainnya kotor karena dia gunakan. Kemudian, kenapa dia tidak membersihkan dapurnya setelah anaknya sakit? Itu juga anaknya, dan itu adalah rumahnya, dan juga rumah Lusi. Jadi, seberapa sering dia berterima kasih kepada istrinya Lusi karena dia telah melakukan semua pekerjaan rumahnya?

 

Apa yang Gus gagal untuk sadari, adalah Lusi tidak membutuhkan ‘bantuan’ darinya. Menyimpulkan bahwa dia membutuhkan sebuah ‘bantuan’ berarti menyimpulkan bahwa itu adalah pekerjaannya, dan ia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dan mengurus anaknya itu sendirian. Itu juga berarti semua yang Gus lakukan sebagai bentuk ‘bantuan’ kepada istrinya, harus mendapatkan ungkapan terima kasih darinya. Tidak, Lusi tidak membutuhkan ‘bantuan’, yang ia butuhkan adalah partner. Seseorang yang dapat berbagi tanggung jawab, termasuk dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak.

 

Gus tinggal di dalam rumah itu, dia makan masakan yang dimasaknya dengan panci dan wajan di rumahnya, dan juga menggunakan piringnya. Dia mengenakan pakaian dan berjalan di atas lantainya, dan dia juga bangga untuk menjadi ayah dari anak lelakinya. Gus bukanlah pembantu di rumahnya, bukan juga seorang tamu, dia adalah bagian dari rumah tersebut dan dalam hal ini, adalah tanggung jawabnya dan untuk melakukan semua yang dilakukan Lusi. Pernikahan bukan sebuah perbudakan seorang wanita oleh seorang pria. Pernikahan adalah tentang kerjasama, dimana kedua belah pihak punya tanggung jawab yang sama dan berkontribusi demi cinta mereka.

 

Setelah mendengar pendapat saya terhadap masalah tersebut, Gus mengakui bahwa dia sudah menganggap kontribusi Lusi adalah hal yang normal. Dia menjelaskan bahwa hal itu sudah biasa terjadi di rumahnya, sama juga ketika dia hidup dengan orang tuanya, dia tidak pernah melihat itu dari sudut pandang lain. Gus adalah pria yang baik, dan suami yang peduli kepada keluarganya. Dia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan akan melakukan apapun untuk Lusi dan anaknya. Akan tetapi dari generasi ke generasi sudah tertanam dalam dirinya, dan juga banyak pria Indonesia lainnya, sebuah pikiran bahwa harusnya pihak wanita yang mengerjakan ini dan itu, dan pihak pria mengerjakan hal lainnya, yang mungkin juga menjadi salah satu penyebab dari 70% perceraian yang ada di Indonesia diajukan oleh pihak wanita. Demi membuat sebuah perubahan yang positif dalam masyarakat dan mencegah berkembangnya budaya bercerai di zaman sekarang ini, kita harus memulainya dari rumah kita sendiri dan mengajarkan kepada anak-anak kita arti sebenarnya dalam menghargai orang lain, pernikahan dan kebersamaan. Anak-anak kita akan mencontoh semua perbuatan kita. Mari kita tunjukkan yang terbaik kepada mereka.

 

Ditulis oleh Daniel Arseneault
habisnikahngapain.com
Diterjemahkan oleh Miftahul Faza