Hubungan Intim Yang Berkurang

Apakah Anda sedang Mengalami Hal Ini?

Dalam sebuah pernikahan, seringkali terjadi penurunan frekuensi hubungan seksual. Mungkin Anda menganggap bahwa hubungan seksual bukanlah sesuatu yang penting. Tapi siapa tahu, pasangan Anda sebenarnya sangat membutuhkan sentuhan dari Anda. Dalam sebuah pernikahan, hubungan seksual merupakan bentuk kasih sayang, penghargaan dan kedekatan secara emosional terhadap pasangan.

Seks dan sentuhan adalah satu kesatuan. Secara alami,  keduanya menumbuhkan ikatan kedekatan dan rasa aman dalam suatu hubungan. Apalagi, jika Anda melakukannya dengan benar, berhubungan seksual dengan pasangan sah Anda membuat hubungan Anda ‘berbeda’ dari hubungan Anda  dengan orang lain. Inilah yang membuat hubungan Anda dengan pasangan menjadi spesial dan unik.

 

Bagaimana Hal Ini Bisa Terjadi?

Pada awal pernikahan biasanya hampir semua pasangan memiliki frekuensi berhubungan seksual yang cukup baik. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, prioritas akan semakin bergeser, sehingga waktu dan energi yang kita sisihkan untuk hubungan seksual akan semakin berkurang. Ketika hal ini terjadi, kedekatan Anda dengan pasangan juga akan semakin berkurang. Anda mungkin tidak mau lagi duduk berdua dalam satu bangku, tidak lagi bercanda dengan pasangan Anda, dan tidak lagi melakukan hal bersama – sama. Pada dasarnya, Anda dan pasangan tidak lagi menjadi teman baik dan hanya menjadi teman satu ranjang. Pada titik inilah pernikahan menjadi rentan terhadap isu ketidaksetiaan dan perceraian.

Kebanyakan orang tidak mau membicarakan hal ini. Tapi sudah terbukti bahwa kehidupan seksual malah seringkali dikontrol oleh mereka yang tidak begitu bergairah untuk melakukan hubungan seksual. Maksudnya hubungan seksual tersebut tidak akan terjadi jika mereka sedang tidak bergairah. Sehingga meskipun pasangannya sedang sangat membutuhkan hubungan seksual, hal itu tidak akan terjadi karena mereka sedang tidak mood melakukannya.

 

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bicara mengenai pernikahan berarti bicara mengenai keputusan antara dua orang. Dua orang yang sama-sama memutuskan untuk menikah, kemudian punya anak, memutuskan bersama bagaimana mengelola keuangan atau bahkan dimana mereka akan berlibur. Sayangnya, ada hal yang seringkali terlewatkan dalam mengambil keputusan bersama, yaitu mengenai hubungan seksual. Anehnya, mereka yang memiliki kebutuhan seks lebih rendah berharap pasangannya dapat menerima keputusannya tanpa mengeluh dan tetap setia kepadanya. Bagaimana mungkin? Pernikahan dan hubungan seksual adalah suatu kesatuan. Seseorang dengan kebutuhan seks yang lebih rendah berharap bisa memiliki kedekatan emosional dengan pasangannya tanpa harus sering melakukan hubungan seksual, sedangkan pasangannya, dengan kebutuhan seksual yang lebih tinggi, baru bisa merasakan kedekatan emosional setelah melakukan hubungan seksual. Dan yang terjadi adalah si A menunggu si B untuk berubah dan begitupula sebaliknya. Akhirnya, aksi saling tunggu ini akan perlahan mematikan suatu hubungan karena menjadikan pasangan semakin jauh satu sama lain. Dan kemungkinan lain yang sering terjadi, orang yang memiliki keinginan seksual lebih rendah memiliki empati yang kecil terhadap orang yang memiliki keinginan seksual lebih tinggi. Padahal hubungan seksual memiliki peranan penting dalam membentuk kedekatan dan chemistry.

Dalam setiap hal di kehidupan, butuh waktu untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Selain itu, kita juga perlu menjadikannya sebagai prioritas. Sayangnya, sebagian besar masyarakat di Indonesia memiliki prioritas yang berbeda dengan berbagai alasan, seperti misalnya, “sekarang sudah ada anak-anak, saya perlu mengantarkanya untuk les piano dan bimbel” atau “kami tidak punya waktu karena sekarang kami harus bekerja”

 

Apabila Anda merasa ada yang aneh dengan hubungan seksual Anda dengan pasangan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ini adalah akhir dari hubungan Anda. Ada banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk menjembatani perbedaan level sexualitas yang Anda miliki dengan pasangan. Hal ini dapat dimulai dengan membangun kembali kedekatan Anda dengan pasangan.


Tanda ke 3 – tidak Ada Konflik