Apa yang ada dalam benak seorang wanita yang ingin meninggalkan pasangannya? Bagaimana perasaannya? Mengapa ia mempertimbangkan langkah yang besar ini, yang bisa menghancurkan anak-anaknya dan keluarganya? Apa yang membuatnya berpikir demikian? Tulisan di bawah ini adalah curahan hati seorang wanita yang terluka, bingung, marah, putus asa dan rindu untuk didengar.

 

 

3 tahun lalu, aku terbaring di kamar malam-malam. Rasanya benar-benar tak ingin bangun. Tak ada jalan keluar. Aku tidak bisa bercerai darinya. Apa yang akan terjadi pada anak-anak? Mampukah aku merawat mereka sendiri? Atau aku masih akan bergantung padanya? Aku menyadari dia memang telah menjadi pencari nafkah di keluarga kami. Tapi dia benar-benar tidak tahu bagaimana merawat anak-anak. Dia bahkan tidak mengenal bagaimana mereka seperti aku mengenal mereka.

Aku tidak bisa pergi. Aku tidak punya pekerjaan. Aku tidak akan mampu memberi makan anak-anak yang aku cintai. Tak kan mampu memberi kehidupan yang layak mereka dapatkan. Aku sudah bergantung padanya begitu lama. Aku telah mempercayai pria ini untuk menafkahi aku dan anak-anak. Sekarang aku terbaring di kamar dan bertanya-tanya siapa dia. Bagaimana mungkin aku bisa sampai di sini. Aku tidak akan memilih ini jika aku punya kesempatan kedua.

Aku tidak bisa berbicara padanya. Dia tidak mau mendengarkan. Dia tidak mendengar. Aku sudah putus asa untuk menjelaskan siapa aku, apa yang aku rasakan untuknya. Dia membentengi dirinya dan aku tidak mampu menembusnya. Dia tampak begitu terpenuhi dengan bekerja menonton TV, makan dan tidur. Kenapa dia tidak menginginkan yang lebih, seperti aku?

Aku merasa terjebak. Aku mengasihani diriku karena sudah membiarkan dia memperlakukan aku seperti ini sejak lama. Dia sering mengatakan padaku bahwa dia adalah suami yang baik. Dia juga terlalu sering memastikan kalau aku tahu dia sudah bekerja begitu keras. Aku butuh yang lebih dari dia. Aku mencoba mengatakan padanya bertahun-tahun. Aku menangis, aku memohon, aku membujuk tapi dia tidak mendengar. Dia tidak mampu melihat betapa kesepiannya aku.

Dia begitu dingin dan keras. Aku telah mencoba segalanya. Aku membaca setiap buku. Aku berdoa dari hati yang paling dalam. Aku mencoba untuk menjadi istri yang lebih baik, ibu yang lebih baik. Aku memberitahu diriku bahwa sepertinya ada yang salah dengan diriku. Aku pernah mendengar bahwa jika aku memberi contoh maka dia akan mengikutinya.

Aku tahu ini tentang dua pilihan. Kebahagiaanku atau anak-anakku. Aku akan mengorbankan kebahagiaanku. Aku memutuskan untuk bertahan dan membesarkan anak-anak dengan pria ini. Pria yang tidak pernah mengenalku. Mungkin nanti, suatu saat nanti, kalau mereka sudah besar dan hidup sendiri, aku juga akan melakukannya. Kemudian aku akan menyelamatkan apa yang tersisa untukku.

Aku letakkan hatiku di sebuah kotak tua yang usang dan berdebu di atas almari. Itu lebih mudah. Aku tidak lagi terluka, aku mati rasa.

Saat aku akhirnya berhenti mencoba, dan mencoba untuk mengisi hariku dengan kesibukan. Dia akhirnya memperhatikan. Kabutnya mulai terangkat. Dia tidak lagi begitu dingin dan keras. Tapi aku tak peduli lagi. Terlalu terlambat. Aku mati rasa. Hatiku sudah di dalam kotak itu dan aku berjanji untuk tidak akan mengambilnya lagi.

Aku terhuyung-huyung melalui hari-hariku, menghitung hari dan bertanya-tanya berapa lama lagi aku mampu bertahan seperti ini. Apa anak-anak melihat ketidakbahagiaanku? Apakah dia juga melihatnya? Aku bertanya-tanya apakah anak-anak akan lebih baik dengan satu orang tua yang bahagia atau dengan kedua orangtua yang sekadar ada tapi tidak terhubung? Siksaan ini memakanku hidup-hidup. Apa yang harus aku lakukan? Itu membuatku marah. Semua kepura-puraan di depan teman dan keluarga, seolah-olah aku adalah istri yang bahagia.

Sejak saat ini, aku tidak bisa tidur. Aku terjaga mendengar nafasnya di belakangku, di ranjang kami. Dia seperti begitu damai. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia tidak memperhatikan aku yang begitu terluka? Betapa kesepiannya aku. Aku tidak makan. Aku menarik diri dari teman-teman. Aku hampir mati. Aku sudah putus asa ingin dicintai, dihargai, diperhatikan dan dibahagiakan. Aku bunga yang indah dan rapuh yang perlahan layu tanpa air, sinar mentari dan juga udara. Aku merasa tercekik.

Saat tidak ada yang melihat, saat anak-anak di sekolah, aku menangis. Aku menangis sampai aku kehabisan air mata. Aku ingin semuanya selesai. Aku ingin luka ini berhenti. Setiap kali aku melihat suamiku, aku teringat akan luka tersebut. Hal itu menguras pikiranku. Aku akan melakukan apapun untuk menyingkirkan luka itu. Teman-temanku bertanya mengapa aku sangat kurus. Aku heran, mengapa orang-orang tidak mampu melihat kalau aku hampir mati di sini? Aku bahkan tidak mencoba bicara dengan pria yang tidur bersamaku ini. Buat apa? Toh dia tidak mendengarku. Kami dari dunia yang berbeda.

Akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan surat untuknya. Aku katakan bahwa aku telah selesai. Aku beritahu dia bahwa kami telah menemukan apa yang terbaik buat anak-anak. Tapi aku harus pergi sekarang demi kebaikanku.

Sekarang dia benar-benar terbangun dan keluar dari kabutnya. Dia mengatakan bahwa yang terbaik untuk anak-anak adalah kami harus mencobanya lagi, tapi aku sudah tidak bisa. Aku tidak bisa berpura-pura lagi. Dia ketakutan, dia marah, dia bingung. Dia tidak tahu seberapa terlukanya aku selama ini. dia pikir kami baik-baik saja. Dia telah menjalani kenyataan yang berbeda dariku.

Dia mengatakan bahwa dia akan berubah. Dia akan melakukan segalanya untuk membuat aku bahagia. Dia mengatakan keluarganya adalah yang terpenting bagi dia. Aku tidak memercayainya lagi. Aku mati rasa. Hatiku sudah tersimpan aman dalam kotak tadi.

Dia mencoba, aku melihatnya. Dia mencoba lebih lagi, aku masih melihatnya. Aku melihat luka di matanya, tapi tidak merasakan apapun lagi untuknya. Tak ada rasa iba maupun simpati. Aku mati rasa. Aku tidak merasakan apapun. Aku tidak di sini lagi. Sekarang dia ingin luka itu berhenti. Aku sudah mati rasa. Aku heran mengapa harus begini dulu baru dia mau mendengarku? Sekarang aku tidak ingin bicara dengannya. Aku terganggu mengapa harus seperti ini dulu. Aku mati rasa. Berbicara dengannya hanya membuat aku teringat betapa terlukanya aku dulu. Dan sekarang aku melihat itu di matanya. Insting bertahanku telah habis, setidaknya aku tidak terluka lagi sekarang. Aku hanya mati rasa.

Satu-satunya tempat untuk menghindari mati rasa adalah kemarahan. Dia mencoba lebih lagi. Aku bisa melihatnya berubah dan sekarang kemarahan yang sudah terkubur lama mulai muncul. Kemarahan yang ingin aku ungkapkan di tahun yang lalu. Kemarahan yang takut kutunjukkan. Dia tidak menyadari, marah lebih baik daripada mati rasa. Dia sudah mengambil amarahku. Selama 12 bulan dia mengambil amarahku. 12 bulan yang lain, dia yang marah. Dia tersesat. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Terkadang dia marah balik dan ketika itu terjadi, aku mati rasa lagi.

Aku begitu takut mengeluarkan hatiku dari kotak tadi. Mati rasa jauh lebih aman. Marah juga jauh lebih aman. Apakah dia tahu betapa sulitnya itu untukku? Aku tahu, saat kelahiran anak-anakku, aku berjanji akan memberikan hidupku untuk mereka. Aku hanya tidak tahu kalau ternyata bisa seperti ini. Aku tidak tahu kalau ternyata begitu berat untuk tetap bertahan dalam pernikahan ini.

Terkadang dia memaksaku untuk sembuh lebih cepat. Aku melakukan yang terbaik. Dia menginginkan lebih dariku di saat yang sama. Aku sedang melakukan yang terbaik.

Hari demi hari menjadi berbeda sekarang. Terkadang kita berhubungan baik, terkadang buruk. Tapi aku mencoba bertahan. Aku melihatnya berusaha. Aku melihatnya berbuat kesalahan dan aku melihatnya mencoba lagi. Sekarang aku bisa melihatnya melalui prosesnya. Aku bisa melihat lukanya dan kadang aku bahkan bisa memahaminya.

Di malam-malam tertentu, luka itu kembali. Dan aku teringat masa lalu. Itu membuatku tak bisa tidur. Aku tidak mati rasa lagi. Kemarahan itu juga telah hilang. Aku tidak tahu apapun lagi. Aku begitu ketakutan. Mati rasa jauh lebih aman. Marah juga jauh lebih aman. Jika aku menyerah pada ketakutanku, ketakutan berlebihanku yang tiba-tiba datang, orang-orang akan menyalahkanku karena aku meninggalkan keluargaku dan melepaskan anak-anakku. Jadi aku bertahan dan aku berdoa. Hari demi hari berlalu. Aku tahu, aku telah membuat keputusan yang tepat untuk tetap bertahan.

 

 

Saya sering bicara tentang fakta bahwa 70% perceraian di Indonesia diajukan oleh wanita. Saya juga membahas tentang alasan-alasan saya yakin bahwa perceraian biasanya bukan jawaban dari situasi para wanita ini. Saya menyadari bahwa menjadi seorang pria, dan telah mengalami situasi tersebut dengan mantan istri saya, sudut pandang saya pasti terbiaskan sebagai pasangan yang ditinggalkan dalam perceraian ini (biasanya pria), jadi saya ingin membagi sudut pandang yang berbeda dari wanita yang mungkin mengalami hal yang sama. Seorang wanita yang hampir meninggalkan pernikahannya. Saya harap artikel ini menyadarkan kita akan beberpa hal. Pertama, menunjukkan pada wanita yang sedang berpikir bahwa dunia mereka di ambang kehancuran bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa apa yang mereka rasakan itu nyata dan valid. Yang kedua, untuk menunjukkan pada pria bahwa seberapa pasangan Anda terlihat bahagia, mereka seringkali tidak memberitahu kita apa yang sedang mereka rasakan.

 

Ditulis oleh Daniel Arseneault
habisnikahngapain.com
Diterjemahkan oleh Fany Arsiyanti

Sumber Gambar : ak7.picdn.net