Banyak pasangan yang sekarang merasa bahagia dengan pernikahannya telah melalui fase pernikahan yang tidak bahagia yang seringkali didasari alasan yang sangat serius, seperti kecanduan alkohol, perselimgkuhan, kekerasan verbal, penolakan emosional, depresi, penyakit, ataupun masalah finansial. Mengapa pernikahan seperti imi bertahan dan pernikahan lainnya tidak?

 

Ternyata sikap ingin mempertahankan pernikahan memainkan peranan besar. Banyak pasangan yang merasa pernikahan mereka menjadi lebih bahagia, bukan karena mereka menyelesaikan masalah namun mereka gigih berusaha melewati semua masalah tersebut. Pasangan yang berhasil dalam mengatasi badai rumah tangga jarang mengakatan bahwa konseling membantu mengatasi masalah mereka. Mereka berpendapat seiring waktu akar permasalahan dan segala stress akan membaik. Pasangan yang termasuk dalam golongan ini juga merasa perceraian tidak akan mendatangkan keuntungan bagi mereka, dan mereka memiliki teman atau keluarga yang mendukung pentingnya bertahan dan menjaga ikatan pernikahan.

Penelitian menyimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti bahwa perpisahan atau perceraian akan membuat orang lebih bahagia daripada bertahan dalam kehidupan pernikahan yang tidak bahagia.

 

Hal ini membuktikan bahwa semua ini bukan tentang orang mempertahankan pernikahan karena mereka bisa melakukannya, namun orang mempertahankan pernikahannya karena itu harus dilakukan. Untuk mendukung pernyataan tersebut, berikut adalah fakta tentang perceraian yang mungkin bisa dipikirkan oleh orang yang sedang mempertimbangkan perceraian.

* Kecuali dalam keluarga yang berada dalam konflik berat dan berkepanjangan– dan kebanyakan keluarga tidak berada dalam kategori ini- akan lebih baik bagi keadaan anak-anak apabila orangtua tetap bersama.

* Kemungkinan untuk anak anda menyelesaikan pendidikan, menghindari kenakalan remaja seperti hamil diluar nikah, pencurian, dll lebih besar. Nilai tambah lainnya adalah anak anda juga berkemungkinan lebih besar untuk menjalani pernikahan yang bahagia.

* Bahkan jika orangtua merasa lebih bahagia setelah bercerai, tidak ada jalan keluar yang mudah bagi anak-anak. Anak –anak akan mengalami konflik emosional terlepas dari bagimanapun perasaan atau keadaan orang tua mereka setelah perceraian.

* Pria yang menikah adalah sosok Ayah yang lebih baik . Mereka lebih bisa memberi arahan, menjadi contoh dan bisa mendukung secara finansial.

*Pernikahan baik bagi kebanyakan orang dewasa. Apabila dibandingkan dengan mereka yang lajang atau bercerai, orang yang menikah lebih sehat, memiliki kehidupan seks yang lebih baik, dan mereka lebih jarang terlibat dalam aktivitas yang beresiko tinggi atau merugikan seperti kecanduan alkohol atau narkoba, jangka hidup mereka lebih panjang dan mereka lebih bahagia.

*Tingkat depresi pada wanita yang mengalami perceraian satu kali adalah 3 kali lipat dari wanita yang tidak pernah mengalami perceraian, sedangkat tingkat depresi pada wanita yang mengalami perceraian dua kali adalah 4 kali lipat dari wanita yang tidak pernah mengalami perceraian.

 

Sebuah penelitian tentang kesepian menunjukkan hasil sebagai berikut:

*Persentase rasa kesepian orang yang telah menikah adalah sebesar 4,6%, pada lajang 14,5%, orang yang bercerai 20,4 %, orang yang menjadi janda/duda karena pasangannya meninggal 20,6%, orang yang memutuskan pisah dengan pasangannya sebesar 29,6%.

* Mereka yang berada dalam pernikahan yang sehat cenderung menjadi pegawai yang lebih produktif. Pria yang telah menikah lebih jarang bolos bekerja.

* Standar kehidupan Ibu Tunggal setelah perceraian hamper selalu menurun setelah perceraian.

* Sebanyak 50% pernikahan pertama berakhir dengan perceraian, 67% pernikahan kedua berakhir dengan perceraian, dan 73% pernikahan ketiga berakhir dengan perceraian.

 

Banyak orang yang sedang memikirkan perceraian berharap mereka dapat melihat masa depan. Ya, sebenarnya mereka bisa. Banyak penelitian menunjukkan dengan sangat jelas bahwa dalam banyak kasus, perceraian bukannlah jawaban, namun banyak orang mengabaikan fakta ini dan merasa tidak ada jalan keluar lain selain percerian. Mereka secara keliru memahami bahwa mereka hanya memiliki dua pilihan, antara menjalani pernikahan yang tidak bahagia sampai akhir hayat atau bercerai. Sangat sedikit orang yang sedang mengalami masalah pernikahan mempertimbangkan bahwa mereka memiliki pilihan ketiga, bagaimana dengan menghabiskan akhir hayat anda dengan kehidupan pernikahan yang bahagia dengan pasangan anda sekarang dan anak anda?

 

← Bagian 1

Ditulis oleh Daniel Arseneault (@hbsnikahngapain)
Penulis Habis Nikah, Ngapain?
http://habisnikahngapain.com/
Diterjemahkan oleh Dian Sari

Newsletter signup

Just simple MailerLite form!

Please wait...

Selamat Anda telah bergabung! Silahkan cek email Anda untuk mendapatkan link download eBook GRATIS dari kami.