Waspadalah!

Dear Sahabatku,

Saya pergi hang out dengan beberapa teman minggu ini dan salah satu dari mereka bercerita tentang pernikahannya kepada saya setelah dia tahu bahwa saya menulis buku, Habis Nikah Ngapain? Pada dasarnya dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa membuat istrinya berubah demi meningkatkan keharmonisan rumah tangganya.

Jon telah menikah dengan istrinya yang sekarang, Lily, selama 7 tahun. Tapi  Lili adalah istri dari pernikahannya yang ketiga. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Jon ternyata adalah suami dari pernikahan Lily yang kelima. Ya. Sepertinya Jon dan Lily sedang mencari cinta dengan cara yang sama dengan yang kebanyakan orang lakukan, yaitu berganti pasangan saat mereka sudah tidak bahagia dengan pasangan yang sekarang.

Saat saya mendengarkan cerita Jon, saya memperhatikan nada bicara dan bahasa tubuhnya. Pertama, dia menyebut bahwa Lily tidak pernah senang dengan apa yang dilakukannya, mengkritik segala sesuatu yang dilakukannya, dan mulai mengkritik segala sesuatu yang dia lakukan. Dia terus bercerita kepada saya bagaimana istrinya selalu mengomelinya ketika dia menonton TV, atau bermain game sepulang kerja. Dia berpikir bahwa hobi Lili memelihara berbagai macam hewan di rumah adalah konyol dan sangat mengganggu. Dia mengeluh tentang hubungan seksual yang hampir tidak pernah dilakukan dan menyindir bahwa menopause bukanlah alasan untuk tidak melakukan hubungan seksual. Dia menceritakan bahwa Lili sering mengeluh karena ia menghabiskan uang untuk anaknya dari pernikahan yang sebelumnya, sehingga dia merasa tidak dihargai dan mulai menghina anak Lili yang sekarang tinggal bersamanya dengan mengatainya malas dan bodoh karena Lili selalu memanjakannya.

Saya sangat yakin kita pernah mendengar keluhan teman kita tentang pasangannya dan saya rasa banyak dari kita percaya bahwa kita butuh melampiaskan frustasi kita tentang pasangan kita sendiri. Kita semua pernah melakukannya dan pernah mendengarnya. Dan semua itu terasa seperti hal yang biasa dilakukan pasangan. Tapi ini bukan hanya tentang melampiaskan kekesalan. Dalam kasus Jon dan Lily, hal ini sudah bisa disebut sebagai PENGHINAAN.

Penghinaan, menurut kamus, adalah “kurangnya rasa hormat atau penghormatan akan sesuatu.” Hal ini lambat laun bisa merayap dalam hubungan Anda dan menjadi kebiasaan yang tidak sehat dalam sebuah pernikahan. Dan buruknya, orang-orang yang menghina ini tidak menyadari bahwa mereka telah menghina pasangannya. Mereka berpikir bahwa mereka sedang menceritakan kejadian “menarik” atau “lucu” tentang pasangan mereka.

Saya mencoba mengingatkannya dengan hati-hati bahwa dilihat dari nada bicara dan bahasa tubuhnya sendiri, dia tampak kesal dengan istrinya dan terdengar menyalahkan istrinya atas semua masalah dalam rumah tangganya. Kemudian dengan cepat dia menjawab bahwa dia sangat mencintai istrinya dan tidak akan mengatakan itu di depan istrinya. Dia hanya akan menyampaikan kekesalannya ini di depan teman-temannya. Justru itu yang membuat saya bertanya-tanya. Sebenarnya seberapa besar rasa hormatnya kepada istrinya, jika ia merasa bahwa menghina dan meremehkan istrinya di depan teman-temannya saat hang out adalah hal yang biasa?

Menariknya, fokus pembicaraan menjadi berlanjut tentang Jon, dan masalah pernikahan Jon serta bagaimana efeknya pada Jon. Anda tahu, semakin dia menyadari keterlibatannya dan mungkin bagaimana sikapnya mempengaruhi sikap Lili kepadanya, dia malah semakin defensif dan bahkan menganggap bahwa dirinyalah orang yang penuh kasih sayang dalam rumah tangganya. Saya rasa, pernyataan saya yang menunjukkan penghinaannya pada Lili membawa efek yang serius pada Jon dan memaksanya untuk berintrospeksi terhadap kegagalannya sendiri dalam bersikap pada Lili.

Seringkali kita bersikap lebih jahat kepada orang yang kita cintai daripada orang lain. Kecenderungan inilah yang mengurangi rasa hormat dan membuat kita mulai membicarakan kekurangan pasangan kita kepada teman atau keluarga. Mengapa kita melakukan hal ini? Ada banyak alasan, tapi salah satunya adalah untuk mendapat simpati dari orang lain. Dalam kasus Jon, dia mungkin ingin terlihat menarik di depan teman-temannya. Lagipula, ada yang mengatakan bahwa laki-laki sering berbicara buruk atau mengeluh tentang pasangannya dan orang cenderung merendahkan orang lain untuk menaikkan harga dirinya sendiri. Dalam kasus lain, tujuannya mungkin untuk menyampaikan pesan kepada pasangan tentang betapa tidak bahagianya kita atau tentang apa yang kita inginkan terhadap mereka. Hal ini sering memicu munculnya sindiran yang dibungkus melalui candaan atau perkataan agresif yang penuh dengan pernyataan kasar yang sebenarnya adalah masalah serius yang kita sedang hadapi.

Seorang suami pulang dari kerja dan mau berkomentar terhadap masakan istrinya dengan berkata penuh cinta, “Sayang, baunya enak sekali. Masak apa sih? Hebat banget ya..” atau tambahkan candaan kalau itu adalah hal yang jarang terjadi seperti, “Sayang, baunya enak sekali. Kamu masak? Aku salah masuk rumah nih.”

Sahabatku, bagaimanapun bentuknya, saya katakan pada Anda dari pengalaman saya pribadi. Ada hal kecil yang ternyata lebih menyakitkan yaitu mendengar penghinaan dari orang yang kita sayangi, atau rasa tidak dihargai pada nada bicara mereka. Ini adalah akibat nyata dari kurangnya ikatan emosional dan seringkali menjadi titik dimana pernikahan mulai tidak harmonis. Banyak orang tidak menyadari kebiasaan menghinanya sendiri adalah faktor penting karena mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang melakukan penghinaan. Jadi, bagaimana Anda tahu?

Sederhana sekali, yaitu dengan selalu waspada. Waspada setiap kali Anda berbicara pada pasangan Anda atau tentang pasangan Anda. Waspada dengan nada bicara Anda, waspada dengan pilihan kata, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda. Waspada dengan tujuan Anda berbicara. Waspada dengan apa yang ada di hati Anda. Tanyailah diri Anda sendiri, “Apakah aku sudah bersikap penuh cinta?” “Apakah aku merasakan cinta di hatiku?” “Apakah pernyataanku menyakiti pasanganku?” “Apakah aku senang jika pasanganku berbicara seperti itu kepada ku?”

Terdengar sulit? Baiklah, saya beritahu Anda satu hal, ini jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada perceraian, dan dari cerita Jon, hal ini jauh lebih efektif daripada Anda menghabiskan waktu Anda seumur hidup untuk mencari-cari orang yang tepat.

Nantikan email saya dalam beberapa hari ke depan.

Sampai nanti,

Be loving.