Setelah menikah, aku mengajak istriku untuk tinggal bersamaku di rumah kecilku yang sudah kubeli dengan hasil kerjaku selama 10 tahun. Pada minggu pertama kami tinggal bersama, dia mulai memprotes kebiasaanku sepulang kerja langsung naik ke atas kasur.

“Ganti baju dulu lah Sayang,”katanya. “Loh, kenapa? Biasanya juga kaya gini,”tanyaku sekaligus memprotesnya. “Ya biar terhindar dari penyakit sama kotoran-kotoran di jalan yang kamu bawa sepanjang perjalanan pulang Sayang,” jawabnya sambil tersenyum. Aku tidak mengerti. Selama 2 tahun ini, aku sudah terbiasa melakukan hal ini dan sejauh ini aku masih sehat-sehat saja dan tidak pernah sekalipun sakit. Tapi lebih baik aku diam dan menurutinya daripada perkara kecil ini menjadi panjang.

Keesokan harinya, saat aku mandi, istriku memprotes caraku mengguyur badan yang sangat keras. “Sayang, pelan-pelan dong mandinya. Airnya keluar ke pintu,” katanya. “Biasanya juga gini,” elakku. Kemudian terjadi sedikit perdebatan antara kami, dimana dia harus mencuci keset yang terletak di depan kamar mandi karena air bekas mandiku yang keluar pintu.

Semenjak itu, aku mau tidak mau harus terbiasa mandi pelan, ganti baju sebelum naik ke kasur, dan meletakkan sendok nasi di atas sebuah piring setelah memakainya. Aku tidak pernah menyadari kalau aku sebegitu berantakannya.

Bukan. Istriku yang terlalu berlebihan. Dan aku tidak akan pernah memahaminya.

Dia berganti pakaian setiap sebelum tidur. Di era ini, siapa yang masih berganti pakaian sebelum tidur? Dia juga terkadang memakai kebaya untuk menghadiri pesta pernikahan. Pernah saya bilang, “Aku beliin kebaya model sekarang ya. Kan banyak itu di toko-toko.” “Enggak usah Sayang. Ini kan warisan dari ibumu juga,” begitu jawabnya.

Setelah punya anak, dia bertingkah lebih aneh lagi. Hampir sepanjang hari memakai daster. Baru sarapan jam 1 siang. Kemana-mana membawa tas popok bayi yang begitu besar. Dia menggendong bayinya kemana-mana. Saat anak kami menangis, dia langsung menggendongnya. Beberapa temannya pernah memberitahunya, “Gapapa. Biarin nangis sebentar. Itu sehat buat jantungnya.” Tapi kemudian dia menjawab, “akan lebih baik lagi bagi hatinya, jika dia tersenyum.”

Suatu hari setelah beberapa tahun lamanya, dia bangun dari tempat tidur sambil tersenyum.

“Ada apa?”tanyaku. “Gakpapa, rasanya hari ini luar biasa. Aku ga perlu bangun tengah malam buat nenangin anak-anak. Mereka juga nggak nyusulin kita di kamar.”

“Oh”jawabku masih tak mengerti. “Baru kali ini aku bisa tidur nyenyak sepanjang malam setelah ada anak-anak.”

Apa?? Baru kali ini dia bisa tidur nyenyak setelah 2 tahun lamanya? Dan dia sama sekali tidak pernah mengeluh? Kalau itu aku, tentu saja aku sudah mengeluh. Itulah mengapa aku tidak akan pernah memahami istriku.

Dan kini anak kami sudah mulai tumbuh. Dia bertingkah persis seperti ibunya. Jika dia tumbuh seperti ibunya nanti, maka suatu hari akan ada satu lagi pria beruntung di dunia. Suaminya.

 

Dari berbagai sumber

Ditulis ulang oleh Fany Arsiyanti
Sumber Gambar dari fanind.com

Newsletter signup

Just simple MailerLite form!

Please wait...

Selamat Anda telah bergabung! Silahkan cek email Anda untuk mendapatkan link download eBook GRATIS dari kami.